Tanda Tanda Orang Munafik Menurut Islam, Ketahui Ciri hingga Ancaman Azab Pedihnya

7 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta Memahami tanda tanda orang munafik menurut Islam adalah hal yang sangat penting. Sifat munafik, yang secara harfiah berarti "berpura-pura," adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Hal ini karena mereka menampilkan keimanan di luar, namun menyembunyikan kekufuran di dalam. Sebuah perilaku yang kontradiktif antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan, atau antara yang tampak dan yang tersembunyi.

Sifat ini tidak hanya merusak diri sendiri tetapi juga mengancam keutuhan dan kejujuran dalam berinteraksi sosial. Melansir dari kitab Lisan al-Arab karya Jalaluddin Muhammad, kata nafaq memiliki akar kata terowongan yang digunakan oleh sejenis tikus untuk bersembunyi. Ini menggambarkan bagaimana seorang munafik menyembunyikan niat buruknya di balik tampilan luarnya. Mengetahui tanda tanda orang munafik menurut Islam menjadi langkah awal untuk menjauhi sifat tersebut dan memperbaiki diri.

Berikut Liputan6.com ulas lengkap seputar tanda tanda orang munafik menurut Islam.

Pengertian Munafik dan Indikasinya

Kata munafik berasal dari bahasa Arab, nifa>q, yang memiliki makna ganda. Secara bahasa, kata ini merujuk pada perilaku yang tidak sesuai antara lahiriah dan batiniah. Kata ini juga sering dianalogikan dengan tikus tanah (yarbu') yang memiliki banyak lubang persembunyian; ia masuk dari satu lubang dan bisa keluar dari lubang lainnya. Analogi ini menggambarkan seseorang yang berpura-pura beriman di depan orang lain, namun di dalam hati menyembunyikan kekufuran, dan bisa "keluar" atau berkhianat kapan saja.

Dalam konteks agama, munafik adalah orang yang secara lisan mengaku beriman kepada Allah, namun hatinya menolak dan mengingkari kebenaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), munafik diartikan sebagai orang yang berpura-pura turut dalam agama padahal sebenarnya tidak, atau berkata sesuatu yang tidak sama dengan perbuatannya. Buku berjudul Kafir dan Indikasinya karya Ahmad Izzudin al Bayanuni juga menjelaskan bahwa perilaku ini bisa menjadi indikasi ketidakberesan iman seseorang.

Tingkat kemunafikan ini terbagi dua: kemunafikan akidah (besar) dan kemunafikan amaliyah (kecil). Kemunafikan akidah adalah yang paling berbahaya karena pelakunya ditempatkan di neraka paling bawah, sementara kemunafikan amaliyah merujuk pada perilaku yang memiliki ciri-ciri munafik namun tidak sampai membatalkan keimanan, seperti malas beribadah atau ingkar janji.

Tanda-Tanda Utama Orang Munafik

Menurut Islam, tanda tanda orang munafik menurut Islam secara jelas disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Berikut adalah beberapa ciri-ciri utama yang diuraikan secara rinci dijelaskan dalam penelitian, berjudul Kelompok Munafik Dalam Al-Quran (Ciri Dan Sikap AlQuran Terhadap Orang-Orang Munafik) 2022:

  1. Berdusta dan Ingkar Janji Salah satu ciri paling menonjol dari orang munafik adalah berdusta dan tidak menepati janji. Al-Qur'an surah An-Nahl ayat 91 menyatakan, "Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu)." Ayat ini, yang dijelaskan lebih lanjut dalam Tafsir al-Misbah oleh M. Quraish Shihab, menekankan bahwa janji yang telah diucapkan—terutama dengan nama Allah—harus ditepati. Orang munafik sering melanggar janji yang telah mereka ikrarkan, bahkan setelah mereka bersumpah dengan nama Allah.
  2. Mengaku Beriman tapi Hatinya Berpenyakit Surah Al-Baqarah ayat 8-10 menggambarkan dengan gamblang ciri ini: "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." Ayat ini menunjukkan bahwa orang munafik pandai menyembunyikan kemunafikan mereka di balik ucapan yang indah. Mereka menipu Allah dan orang beriman, padahal sebenarnya mereka hanya menipu diri sendiri. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "penyakit" yang ada di dalam hati mereka bisa berupa kebencian, keraguan, dan kebodohan yang mengarah pada ketidakseimbangan mental dan keimanan.
  3. Malas Beribadah dan Riya Ciri lain yang sangat mencolok adalah kemalasan dalam beribadah, terutama salat, dan motivasi riya' (ingin dipuji) di dalamnya. Surah An-Nisa ayat 142 menjelaskan, "Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." Keterangan dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang munafik tidak memiliki keikhlasan saat beribadah; mereka hanya melakukannya agar terlihat baik di mata orang lain. Karena itu, mereka sering meninggalkan salat yang tidak terlihat oleh orang, seperti salat Isya dan Subuh.
  4. Mengolok-olok Ayat dan Rasul Allah Surah At-Taubah ayat 64-65 menyingkap ciri orang munafik yang suka mengolok-olok ajaran Islam dan Rasulullah SAW. Mereka khawatir rahasia kemunafikan mereka terbongkar oleh ayat-ayat Al-Qur'an, padahal mereka sendiri yang suka menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan gurauan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mencontohkan bahwa olok-olok ini terjadi ketika mereka bersama Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan, di mana mereka meremehkan kekuatan Islam di hadapan musuh.
  5. Tidak Menepati Janji Terhadap Orang Lain Ciri ini juga tercermin dalam surah Al-Hasyr ayat 11-12, yang mengisahkan bagaimana orang-orang munafik berjanji akan membantu kaum Yahudi, tetapi Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar berdusta. Janji yang diucapkan kepada orang lain hanyalah omong kosong, dan ketika dihadapkan pada kenyataan, mereka akan mengingkari janji tersebut.
  6. Ingkar Janji yang Berlanjut Hingga Kematian Surah At-Taubah ayat 77 menjelaskan, "Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada waktu mereka menemui-Nya, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." Ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan ingkar janji dan berdusta akan mengakar kuat dalam hati mereka, sehingga sifat munafik ini akan terus melekat sampai akhir hayat.

Azab Pedih bagi Orang Munafik

Sebagai balasan atas kekufuran dan pengkhianatan mereka, Al-Qur'an menjelaskan beberapa bentuk azab yang akan diterima orang munafik. Azab ini menunjukkan betapa besar murka Allah terhadap sifat kemunafikan.

  1. Wajah Menjadi Hitam Muram Dalam surah Ali-Imran ayat 106, Allah SWT berfirman tentang Hari Kiamat, "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): 'Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu'." M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa "hitamnya wajah" di sini bukan bermakna fisik, melainkan gambaran dari kesedihan dan penderitaan yang sangat mendalam akibat perbuatan mereka di dunia.
  2. Siksa di Dunia dan Akhirat Surah Al-Ahzab ayat 24 menyebutkan, "Supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya." Ayat ini menegaskan bahwa orang munafik akan mendapatkan siksaan, baik di dunia maupun di akhirat, jika mereka meninggal dalam keadaan munafik tanpa bertaubat.
  3. Tingkatan Neraka yang Paling Bawah Salah satu hukuman terberat bagi orang munafik adalah ditempatkan di dasar neraka. Surah An-Nisa ayat 145 berbunyi, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." Hal ini menunjukkan bahwa dosa kemunafikan lebih berat daripada dosa kekufuran yang terang-terangan.
  4. Dikutuk dan Mendapat Siksaan di Neraka Jahannam Surah Al-Fath ayat 6 menjelaskan, "Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah." Ayat ini menegaskan bahwa orang munafik akan mendapatkan murka dan kutukan dari Allah, serta ditempatkan di neraka Jahannam sebagai balasan atas prasangka buruk dan pengkhianatan mereka.

Pembagian Nifaq (Kemunafikan)

Dalam syariat Islam, nifaq dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu Nifaq I'tiqadi dan Nifaq Amali. Pembagian ini membantu dalam memahami tingkat keparahan kemunafikan seseorang serta dampaknya terhadap keimanan dan amal perbuatan.

Nifaq I'tiqadi (Kemunafikan Aqidah atau Keyakinan)

Nifaq I'tiqadi adalah kemunafikan besar yang berorientasi pada penyimpangan agama dan dapat mengantarkan pelakunya pada siksa api neraka. Pelaku nifaq jenis ini memperlihatkan keislaman tetapi sebenarnya tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan lebih jahat dari orang kafir karena menyembunyikan kekufuran di balik topeng keimanan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Munafiqun ayat 1-3 yang menjelaskan bahwa orang-orang munafik bersumpah bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah, padahal Allah mengetahui bahwa mereka adalah pendusta. Mereka menjadikan sumpah sebagai perisai untuk menghalangi manusia dari jalan Allah, dan hati mereka telah dikunci mati karena telah beriman kemudian menjadi kafir, sehingga mereka tidak dapat mengerti kebenaran.

Dalam tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa "beriman" yang dimaksud dalam ayat ini adalah beriman dengan lidah, tidak disertai keyakinan dalam hati. Tingkat keimanan seseorang berbeda-beda, ada yang ikhlas dari lubuk hati, ada pula yang awalnya beriman namun kemudian memudar hingga masuk dalam kekufuran, menunjukkan kerapuhan iman mereka.

Nifaq Amali (Kemunafikan dalam Bentuk Perbuatan)

Nifaq Amali adalah kemunafikan yang ditunjukkan melalui perbuatan yang berbeda dengan ajaran Islam, namun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama. Pelaku nifaq jenis ini masih memiliki iman dalam hatinya, tetapi imannya lemah dan mudah goyah, sehingga rentan terjerumus dalam maksiat dan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat.

Contoh kemunafikan perbuatan disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW: "Tanda orang Munafik itu tiga, apabila berkata dusta, berjanji ia munkar, dan dipercayai ia khianat." (HR. Muslim). Hadis ini memberikan gambaran jelas tentang perilaku sehari-hari yang menjadi indikator kemunafikan amali, meskipun tidak serta merta mengeluarkan seseorang dari Islam.

Sejarah Kemunafikan dalam Islam

Kemunafikan merupakan fenomena yang muncul dalam sejarah perkembangan dakwah Islam, terutama saat Islam mengalami kemajuan signifikan di Madinah. Dijelaskan dalam publikasi Digilib UINSA, Periode Madinah menjadi titik awal kebangkitan Islam, namun juga memunculkan kelompok munafik yang berusaha merongrong dari dalam.

Tokoh munafik yang paling sentral pada era kenabian di Madinah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia adalah seorang pemimpin yang sangat dihormati suku Khazraj dan memiliki ambisi menjadi pemimpin kota Yatsrib (Madinah). Namun, impiannya pupus ketika beberapa pemuka Khazraj membai'at Rasulullah SAW di Aqabah dan berjanji menyebarkan ajaran Islam di Yatsrib.

Kekecewaan Abdullah bin Ubay bin Salul karena gagal menjadi raja, serta iri hati, dengki, dan curiga terhadap Islam, semakin bertambah ketika kaum Muslimin memenangkan Perang Badar. Akhirnya, ia dan para pengikutnya memutuskan untuk masuk Islam, dan sejak itulah kemunafikan mulai timbul di Madinah, menjadi ancaman internal bagi umat Muslim.

Ancaman dan Azab bagi Orang Munafik

Al-Qur'an memberikan ancaman dan azab yang sangat pedih bagi orang-orang munafik, baik di dunia maupun di akhirat. Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa kemunafikan dalam pandangan Islam dan konsekuensi yang akan diterima pelakunya.

Ancaman Memerangi dan Membunuh Tanpa Ampun

QS. Al-Ahzab ayat 60-62 mengancam orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit hati, dan penyebar kabar bohong di Madinah. Jika mereka tidak berhenti menyakiti, Allah akan memerintahkan Nabi untuk memerangi mereka, dan mereka tidak akan menjadi tetangga di Madinah melainkan dalam waktu sebentar, kemudian akan ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa "al-murjifun" adalah orang-orang yang menyebarkan isu negatif untuk mengguncang masyarakat. Ancaman ini sangat keras, namun dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, tidak tercatat adanya orang munafik yang terbunuh akibat ancaman ini, menunjukkan bahwa mereka benar-benar takut dan menghentikan perbuatan buruknya.

Kekal dalam Neraka dan Termasuk Orang yang Merugi

QS. At-Taubah ayat 67-69 menyatakan bahwa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sama-sama menyuruh berbuat mungkar dan mencegah yang ma'ruf, serta kikir. Mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Allah menjanjikan neraka Jahanam bagi mereka dan orang-orang kafir, di mana mereka akan kekal di dalamnya dan termasuk orang-orang yang rugi.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat ayat ini menunjukkan bahwa orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki sumber ucapan dan perbuatan yang sama, yaitu ketiadaan iman, kebejatan moral, dan tipu daya. Amalan mereka akan sia-sia di dunia dan akhirat, karena tidak didasari keikhlasan dan keyakinan.

Wajah Hitam Muram di Hari Kiamat

QS. Ali-Imran ayat 106 menggambarkan Hari Kiamat di mana ada muka yang putih berseri dan muka yang hitam muram. Bagi yang mukanya hitam muram, akan dikatakan: "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu." Ini adalah gambaran visual dari penyesalan dan kehinaan yang akan dialami orang munafik.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa putih dan hitamnya wajah di sini bukan warna kulit, melainkan kegembiraan dan kesedihan, keceriaan dan kesengsaraan. Ini adalah balasan bagi mereka yang mengingkari ajaran setelah datangnya keterangan yang jelas, menunjukkan betapa besar penyesalan mereka di hari perhitungan.

Ditempatkan di Tingkatan Paling Bawah Neraka

QS. An-Nisa ayat 145 menegaskan bahwa orang-orang munafik akan ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan mereka tidak akan mendapatkan seorang penolong pun. Ini menunjukkan betapa beratnya hukuman bagi mereka yang menyembunyikan kekufuran di balik topeng keimanan.

Menurut Shalah Abdul Fattah, ini adalah balasan atas kekufuran yang sangat besar, yaitu perbuatan nifaq. Neraka memiliki tingkatan ke bawah, dan orang munafik akan berada di tingkatan terendah, menunjukkan bahwa dosa kemunafikan lebih berat daripada kekufuran terang-terangan.

Azab Pedih di Dunia dan Akhirat

QS. At-Taubah ayat 74 menjelaskan bahwa orang-orang munafik bersumpah tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, padahal mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran. Jika mereka bertaubat, itu lebih baik bagi mereka, namun jika berpaling, Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa azab di dunia bisa berupa kegelisahan batin, rasa takut, dan sanksi hukum, sedangkan di akhirat adalah siksa neraka tanpa pelindung atau penolong. Ini menunjukkan bahwa kemunafikan membawa penderitaan baik secara psikologis maupun fisik, di dunia dan di akhirat.

Hal-Hal yang Harus Dihindari agar Tidak Terjerumus dalam Sifat Munafik

Untuk menghindari sifat-sifat kemunafikan, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan beberapa hal penting yang memperkuat keimanan dan integritas diri. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga hati dan perbuatan agar selaras dengan ajaran Islam.

Memperkokoh Loyalitas Sesama Muslim

Loyalitas atau al-wala' berarti mencintai, menolong, mengikuti, dan mendekat kepada sesuatu. Untuk menghadapi orang munafik, Allah mengajarkan umat mukmin untuk merapatkan barisan dan bersatu dalam visi dan misi, menjaga persatuan dan kekuatan umat.

QS. An-Nisa ayat 88 menegur umat Muslim yang terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran karena usaha mereka sendiri. Ini menunjukkan pentingnya persatuan dan tidak membela orang munafik, agar tidak terjerumus dalam kesesatan.

Menghindari Perbuatan Berdusta (Berbohong)

Berdusta adalah memberitahukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Orang munafik sangat erat kaitannya dengan sifat al-kadzib (dusta), yaitu mendustakan kebenaran dan menyebarkan fitnah, yang merusak tatanan sosial dan keagamaan.

QS. Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan umat beriman untuk meneliti berita yang dibawa oleh orang fasik agar tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang dapat menyebabkan penyesalan. Ini menekankan pentingnya verifikasi informasi untuk menghindari penyebaran dusta.

Menghindari Sifat Malas Beribadah

Ibadah adalah bentuk ketaatan dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Orang munafik memiliki karakter malas beribadah, seperti yang dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 142, di mana mereka shalat dengan malas dan hanya untuk riya. Ini menunjukkan kurangnya keikhlasan dan ketulusan dalam beragama.

Sebagai seorang Muslim, penting untuk tidak malas dalam beribadah, karena ibadah adalah tanda kepatuhan dan ketundungan kepada Allah, serta menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Konsistensi dalam ibadah adalah benteng dari sifat munafik.

Meneguhkan Perjanjian

Janji adalah ikatan antara dua orang atau lebih yang bersifat mengikat. Ingkar janji adalah sifat syaitan dan dapat berdosa tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah. QS. An-Nahl ayat 91 menekankan pentingnya menepati janji yang telah diikrarkan, sebagai wujud ketakwaan dan kejujuran.

Allah menjamin bahwa janji dan ancaman-Nya pasti akan dilaksanakan. Rasyid Rida dalam Konsep Teologi Rasional Dalam Tafsir Al-Manar menjelaskan bahwa orang yang dikehendaki Allah untuk diampuni adalah yang berhak memperoleh pengampunan, dan yang disiksa adalah yang layak menerima siksaan, menegaskan keadilan ilahi.

Memperbanyak Doa

Doa adalah memohon, mengharap, meminta, memanggil, menyeru, memuji, menyembah, atau beribadah kepada Allah SWT. Dalam menghadapi musuh, termasuk orang munafik, doa adalah salah satu upaya penting untuk memohon perlindungan dan pertolongan dari Allah.

QS. Al-Anfal ayat 45 menganjurkan umat beriman untuk berteguh hati dan banyak menyebut nama Allah ketika memerangi musuh agar beruntung. Memperbanyak zikir dan doa adalah cara untuk mengharapkan pertolongan Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya, serta menjaga hati dari kemunafikan.

 Sumber: 

  • Muhammad, Jamaludin. t.th. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Sadr.
  • Tafsir al-Misbah oleh M. Quraish Shihab
  • Skripsi: Kelompok Munafik Dalam Al-Quran (Ciri Dan Sikap AlQuran Terhadap Orang-Orang Munafik,2022.
  • al-Bayanuni, Ahmad Izzuddin. Kafir Dan Indikasinya. Surabaya: PT Bina Ilmu, 1989.
  • Digilib UIN Sunan Ampel Surabaya, http://digilib.uinsa.ac.id/566/5/Bab%202.pdf
  •  Kementerian Agama RI. 2012. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Depag RI

FAQ Seputar Tanda Tanda Orang Munafik Menurut Islam

1. Apa perbedaan antara orang munafik dan orang kafir? 

Orang kafir secara terbuka menolak dan mengingkari keimanan kepada Allah, sedangkan orang munafik menampakkan keimanan di hadapan orang lain namun menyembunyikan kekufuran di dalam hati mereka. Perbedaan ini membuat orang munafik lebih berbahaya, karena mereka seringkali sulit dibedakan dari orang beriman dan dapat merusak dari dalam. Oleh karena itu, Al-Qur'an menjelaskan bahwa azab bagi orang munafik lebih berat.

2. Apakah seseorang yang sering ingkar janji secara otomatis menjadi munafik? 

Menurut hadits, ingkar janji adalah salah satu dari tanda tanda orang munafik menurut Islam yang bersifat amaliyah (perilaku). Seseorang yang melakukan hal ini tidak lantas menjadi munafik akidah yang membatalkan keimanan, tetapi ia telah memiliki salah satu sifat yang dibenci oleh Allah. Untuk menghindarinya, penting bagi kita untuk selalu menjaga janji dan berusaha menepatinya.

3. Bagaimana cara menghindari sifat munafik dalam diri sendiri? 

Untuk menghindari sifat munafik, seseorang harus melatih kejujuran, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Selain itu, penting untuk menjaga keikhlasan dalam beribadah, menjauhkan diri dari riya', dan terus mengingat Allah. Dengan memperkuat iman dan memperbaiki akhlak, kita bisa menjauhkan diri dari ciri-ciri munafik.

4. Apakah munafik hanya terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW? 

Sifat munafik tidak terbatas pada zaman Nabi Muhammad SAW saja, melainkan terus ada sepanjang masa. Setiap individu yang memiliki ciri-ciri seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits dapat digolongkan sebagai munafik, baik dalam skala kecil (amaliyah) maupun besar (akidah). Karena itu, ajaran Islam tentang tanda tanda orang munafik menurut Islam relevan hingga saat ini.

5. Mengapa riya' (ingin dipuji) termasuk dalam ciri-ciri munafik? 

Riya' termasuk dalam tanda tanda orang munafik menurut Islam karena perbuatan baik yang dilakukan bukan karena Allah, melainkan karena ingin mendapatkan pujian dari manusia. Orang munafik melakukan ibadah seperti salat hanya agar terlihat saleh di mata orang lain. Ini menunjukkan bahwa niat mereka tidak ikhlas dan bertentangan dengan prinsip dasar ibadah dalam Islam.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |